Bisakah Aku Bertahan?


Bisakah Aku Bertahan ?

Short story

By Musiroh Muki 

Pagi ini tampak Mirna berjalan agak gontai. Putri satu-satunya si *Centil* mengekor disampingnya seakan tidak mau lepas dari ibunya.

Sesekali dia menatap wajah sendu dan murung dihadapannya. "bu...kenapa hari ini ibu tidak semangat ? begitu pertanyaan yang terlontar secara tak sengaja.

Mirna diam, tak ada gairah untuk menjawab pertanyaan putri semata wayangnya. Dia cuma melirik sambil menatap wajah sang bocah. 

"kasihan kamu nak, se kecil ini sudah harus menderita"begitu lirih Mirna dalam hati.

Sejak suaminya meninggal, Mirna tampak semakin kurus, keceriaan yang dulu seperti sirna tertelan waktu. Wajahnya yang manis, tak lagi tampak. Senyumnya yang anggun, seolah berganti penuh kepiluan. Matanya sering menatap kosong dan pikiran nya tak lagi fokus bagaimana ia harus melangkah selanjutnya.

Sebagai buruh pabrik rendahan, gajinya tak lagi cukup untuk membeli sembako sebagai kebutuhan pokok. Semua serba naik pikirnya

Saat ini, dia hanya menggenggam uang lima puluh ribu. Jika harus membeli seluruh kebutuhan pokok nya, tentu tak akan cukup.

Beras 1 liter 13.000 itu pun yang kurang enak. Gas 20.000 hanya bisa dipakai untuk 8-14 hari. Air mineral se galon tidak kurang dari 5000 ini yang isi ulang, bagaimana dengan lauk pauk, telor, tahu dan tempe serta daging ayam kesukaan si centil ?

Semuanya berubah harga.

Pemerintah sudah banyak membantu lewat sembako murah di kampung ini, MBG di sekolah Centil dan bansos yang lumayan. Tetapi semua seperti tak bisa menjawab melonjaknya harga barang pokok kebutuhan sehari-hari rakyat kecil seperti aku. Apalagi satu-satunya penopang hidup telah kembali ke pangkuan ilahi. 

Aku bukan tidak bersyukur atas karunia Allah kepada ku, tetapi aku nyaris lumpuh dalam management hidupku. 

Bantuan yang biasanya cair, sudah 6 bulan tak lagi hadir, sementara KIP anak ku juga ngadat tak kunjung ada kejelasan. Dimana sesungguhnya buntu nya masalah ini ?

Mirna duduk lemas, seperti tak lagi mampu berjalan ke arah toko kelontong di depan rumah nya. gedebuk.... iya jatuh. Centil menjerit, meminta tolong tetangga. 

Sejumlah orang berlari menghampiri keduanya. Mirna... Mirna... Kau kenapa? Tanya berapa orang disekitarnya. Mirna tidak menjawab, dia tidak tahu bahwa dirinya tidak sadar. Dia membuka matanya pelan-pelan, dan .... Astaghfirullah.... kenapa dengan diriku ? Mirna bertanya dalam hati.

"Dunia seperti berputar" begitu kata Mirna . 


Sementara orang-orang disekitarnya bertanya-tanya apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa pingsan? 

Centil tak lagi mampu menahan air mata yang menggelantung di kelopak matanya. "ibu....ibu kenapa?" tanya Centil pelan.

Mirna hanya menggeleng. Dia tak sadar apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa tak sadarkan diri. 

Mirna melihat sekelilingnya. Ada Bu Anto, perempuan baya yang selalu menghibur Mirna. Ada Bu Yuyun dan suaminya, ada juga Bu Lastri tetangga baru Mirna. "_mereka orang-orang baik_" begitu kata Mirna dalam hati. Khawatir membuat para tetangga semakin sedih, Mirna bangkit dan berjalan tertatih dipapah oleh Bu Anto dan Bu Yuyun.

"gusti ada apa dengan ku, kenapa aku jadi begini, tak pandai kah aku bersyukur kepada-mu atas karunia yang sudah banyak ini ?" mata Mirna kosong seperti tak yakin bahwa dirinya mampu menjadi nahkoda tunggal dalam kelanjutan kehidupan Centil.


Sambi Bulu, 6 Mei 2026

Musiroh Muki.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Puisi itu Tidak Mudah

Menulis di PMM Apa Manfaatnya ?