Demi Sang Suami
Minggu Memoar; Jam sudah menunjuk angka 8.15. Aku bersama 3 keponakan ku bersiap-siap untuk meluncur ke sebuah desa umbul timun Lampung. Dengan bekal tali silaturahmi yang kuat, aku berangkat, walau tubuh yang renta ini sesungguhnya tak memiliki kekuatan penuh untuk menempuh perjalanan berjarak 35 kilometer dari dusun adik iparku, dengan mengendarai sepeda motor tua yang tak terawat. Medan berat ku tempuh. Dengan melintasi empat desa, kami berlima berangkat penuh bahagia. Kasih sayang yang tulus dari saudara ipar yang paling tua, membuat ku pantang menyerah melewati lika-liku jalan panjang bergelombang penuh bebatuan yang kadang menanjak, dan tiba-tiba turun meluncur seperti air terjun. Subhanallah... Aku menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya... Batu-batu yang tertata di jalan tak ber aspal, sungguh membuat tulang punggung ini serasa copot seperti kerangka tengkorak yang sudah rapuh. Aku juga bisa menyaksikan hutan karet yang berjajar di sepanjang jalan...