Serpihan Hati Yang Retak



"Belum lagi usai ku letakkan gelas itu untuk ku cuci, muncul beberapa sendok dan garpu kotor yang kamu bawa dari ruang tamu. Apa kamu pikir aku ini robot yang siap bekerja tiada henti setiap hari ?. Apa kamu pikir aku tak butuh istirahat barang sejenak ?. Aku ini manusia, sudah tua, tulang-belulang ku sudah tak sanggup bekerja cepat dan lama. Cobalah kamu mengerti...."

Suara ibu datar dan bergetar. Dari dalam kamar aku coba analisa, kepada siapa kalimat ibu ditujukan?. Di rumah ini tak ada lagi orang lain, selain aku dan ibu. Ayah sudah lama pergi meninggalkan kami, kakak tertua ku, sudah ikut suaminya ke desa sejak dia menikah. Aku mengintip nya dari balik tirai. Tidak ada siapa-siapa. Sejenak aku berpikir... apakah kalimat ibu, ditujukan kepadaku ? Lalu apa masalah nya ? Tidak ada kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan gelas, sendok, garpu dan piring kotor...? aaahhh... aku jadi semakin tidak paham.

Perlahan aku menghampiri ibu, aku coba tanya, sedang bicara dengan siapa?. Ku Tatap mata ibu yang kosong, dia seperti sedang berhalusinasi. Bibirnya komat Kamit tak jelas, entah sedang berkata apa dan dengan siapa. "Ibu...ibu kenapa?" Tanya ku perlahan... "Ibu sedang berbicara dengan ku ?" Mata ibu menatap liar, seperti mencari sesuatu...ya... sesuatu yang hilang... sesuatu yang dirindukan.

Tiba-tiba kulihat air matanya menggelinding diatas pipinya yang mulai mengerut, dia tertunduk dan duduk... lunglai... aku berusaha merengkuh pundaknya yang mulai rapuh. Ku usap perlahan airmata dinginnya... Kucium pipi keriputnya... kubelai rambut putihnya. "Ibu..." bisikku. "Ibu kenapa...? Ibu teringat siapa?... ibu diam, tak menjawab sepatah katapun. Dadanya bergetar dahsyat, degup jantungnya berlari cepat.... astaghfirullah....ucapku.

Kupeluk ibu dalam kasih sayangku. Kucium dahi dan pipinya yang sudah keriput. "Perempuan baya ini, sedang berhalusinasi. Sedang membayangkan kepenatan dan kesedihan yang dilalui" begitu pikirku. Entah apa yang sedang berada dibenaknya. Entah siapa yang ada di pelupuk matanya. Yang pasti beliau lelah...dan sangat lelah. Air matanya mengalir cukup deras, dan goncangan dadanya cukup dahsyat. Nyaris aku tak mampu menahan tubuhnya yang mulai melemah. Perlahan ku baringkan tubuh ringkih ini, diatas dipan yang menua. "Ibu bobo ya....ibu butuh istirahat..." begitu bisikku ke telinganya. Ibu cuma mengangguk. Lalu dia pun pejamkan matanya yang terus alirkan air dari kedua sudut. "Allah....apa yang sedang di pikirkan ibu....?"

Satu, dua jam berlalu. Aku masih memandangi tubuh ibu. Aku tidak ingin beliau terus ber halusinasi. Aku ingin ibu bisa melepaskan semua beban masa lalu yang teramat pahit. Aku ingin di akhir hayat ibu, selalu bahagia walau kami tidak berkecukupan harta. Aku sengaja menunda batas pernikahanku dengan orang yang akan dipertemukan. Aku masih ingin merawat ibu. Inilah harta ku satu-satunya. Bersamanya aku bisa bangkit dan terus berprestasi. Do'a ibu senantiasa membawaku sukses.


Surabaya, 28 Oktober 2023

Musiroh Muki 



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisakah Aku Bertahan?

Membuat Puisi itu Tidak Mudah

Menulis di PMM Apa Manfaatnya ?