Estetika Kognitif
Seorang teman di WAG mengirimkan buah pemikirannya dalam bentuk yang sangat indah dan komunikatif. Aku mencoba menyalin tulisan itu, dengan model komparatif antara pemikirannya dengan pemahaman yang aku punya. Semoga menjadi perkawinan pemikiran yang elok.
Begini bunyi WA nya ;
"Beberapa hari lalu ketika berdialog dengan Pak Rizal Founder GSM di rumahnya, ada satu istilah menarik yang beliau sampaikan yaitu estetika kognitif. Teori estetika kognitif mengungkap bagaimana keindahan pengetahuan dapat dihayati melalui proses mental yang mendalam. Kita mengenal pendahulu kita seperti KH. Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asari, Ki Hajar Dewantara, dan masih banyak intelektual² lainya. Menggabungkan wawasan dari psikologi dan ilmu saraf, teori ini menyoroti bahwa keindahan itu bukan hanya apa yang terlihat mata, tetapi juga bagaimana pikiran kita memproses dan menafsirkan informasi tersebut. Ini berarti bahwa pengalaman estetika bisa terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk melalui pengetahuan dan komunikasi yang indah dan bermakna. Ketika seseorang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pengetahuan dengan cara yang memikat dan menginspirasi, mereka sebenarnya sedang menerapkan prinsip estetika kognitif seperti yang kita dapatkan dari para pendahulu kita dengan jalan pikirannya.
Misalnya, seorang guru yang mengajar dengan penuh semangat, energi, dan menggunakan metafora yang kuat serta analogi yang jelas dapat membuat materi pelajaran terasa hidup dan menarik bagi anak didiknya. Penjelasan yang jernih dan ilustratif tidak hanya membuat konsep-konsep kompleks menjadi lebih mudah dipahami, tetapi juga menciptakan rasa kagum dan kepuasan intelektual. Anak didik yang mendengarkan merasa nyaman dan senang karena mereka tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga merasakan keindahan dalam cara pengetahuan itu disampaikan. Ini adalah contoh nyata bagaimana estetika kognitif dapat diterapkan dalam pendidikan, menjadikan proses belajar sebagai pengalaman yang indah dan bermakna.
Contoh lain bisa dilihat dalam presentasi profesional. Seorang pembicara yang ahli dalam bidangnya dan mampu menyusun presentasi yang terstruktur dengan baik, disertai visual yang menarik dan narasi yang mengalir, dapat membuat audiensnya merasa terlibat dan termotivasi. Penyampaian informasi yang jelas dan visual yang estetis membuat audiens tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasakan kepuasan emosional dan intelektual. Mereka merasa nyaman dan senang karena presentasi tersebut tidak hanya informatif tetapi juga estetik, menciptakan pengalaman yang mendalam dan berkesan.
Ini adalah manifestasi dari estetika kognitif dalam dunia profesional, di mana pengetahuan yang disampaikan dengan keindahan mempengaruhi pikiran dan emosi audiens secara positif.
Estetika kognitif membawa sesosok selalu dinanti, pembawaannya penuh energi positif, penguasaan pengetahuannya didapat bukan hanya dari jenjang pendidikan tapi dari kemauannya untuk terus belajar, yang disampaikan bukan tanpa isi atau bahkan suara berisik, tapi ke dalam kebermaknaan sebuah pengetahuan yang dapat merasuk dengan indah kepada siapapun yang melihat dan mendengar."
Menurutku apa yang disarikan oleh pak Ali di WAG, bukan hanya sekedar estetika Kognitif, melainkan juga estetika psychomotorik. Guru butuh juga mengolah keindahan gerak untuk mampu berkomunikasi dengan siswa sekaligus berperan sebagai audiens dalam sebuah pertemuan. Jika guru hanya mengandalkan estetika Kognitif, bukan tidak mungkin para siswa mengalami kebosanan saat menerima materi panjang dan padat.
Guru / pemateri harus memiliki gaya dan ciri sendiri didalam olah tubuh sebagai bahasa seni penyampai.
Persoalannya, seberapa banyak guru mampu mengolah estetika Kognitif dan psychomotorik nya dalam menyampaikan materi dengan tujuan membawa siswa terbang jauh dari ke stagnan an cara belajar mereka ? Mari kita bersama-sama melakukan penelitian terhadap diri sendiri.
Sambi Bulu, 15 mei 2024
Musiroh Muki

Wah keren isinya👍👍
BalasHapus