Demi Sang Suami

 


Minggu Memoar;

Jam sudah menunjuk angka 8.15. 

Aku bersama 3 keponakan ku bersiap-siap untuk meluncur ke sebuah desa umbul timun Lampung. 

Dengan bekal tali silaturahmi yang kuat, aku berangkat, walau tubuh yang renta ini sesungguhnya tak memiliki kekuatan penuh untuk menempuh perjalanan berjarak 35 kilometer dari dusun adik iparku, dengan mengendarai sepeda motor tua yang tak terawat.


Medan berat ku tempuh. Dengan melintasi empat desa, kami berlima berangkat penuh bahagia. Kasih sayang yang tulus dari saudara ipar yang paling tua, membuat ku pantang menyerah melewati lika-liku jalan panjang bergelombang penuh bebatuan yang kadang menanjak, dan tiba-tiba turun meluncur seperti air terjun.

Subhanallah... Aku menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya... Batu-batu yang tertata di jalan tak ber aspal, sungguh membuat tulang punggung ini serasa copot seperti kerangka tengkorak yang sudah rapuh.

Aku juga bisa menyaksikan hutan karet yang berjajar di sepanjang jalan desa menuju rumah kakak ipar ku.

Ada banyak bangunan rumah baru yang indah, ada juga yang asli bantuan pemerintah. Rumah papan bersusun dengan pernak-pernik sederhana. Aku juga melihat keramahan orang-orang desa di sepanjang jalan desa ini. Ada sapa dan tata krama, ada unggah-ungguh ala orang desa dari yang muda kepada yang lebih tua.

Para pengayuh sepeda berjalan berderet seperti semut berbaris. Pengendara sepeda motor pun tidak tampak ugal-ugalan layaknya di kota besar. Mobil pun, berjalan teratur seraya memberi jalan para pejalan kaki di tepi jalan.

Aaaahhh... Nafas terengah-engah saat sampai di sebuah gubuk kecil tempat kakak ipar ku tinggal bersama suami tersayang nya.

Tak terasa airmata mengalir memuji kebesaran cinta kakak ku. 

Dia tinggalkan rumah layaknya, demi suami tersayang. Dan rela hidup sangat sederhana ditengah hutan karet yang sepi.

Subhanallah...wahai dzat yang maha cinta, engkau telah mempersatukan kembali dua anak manusia dalam tali kasih sejati.

Kisah ini aku tulis sebagai cerita terindah ku. Untuk menjadi catatan perjalanan selama di Lampung.


Tulang bawang, 16 Juni 2024

Musiroh Muki 


#minggu memoar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisakah Aku Bertahan?

Membuat Puisi itu Tidak Mudah

Menulis di PMM Apa Manfaatnya ?